Archive for Bicara Tasauf

TASAWUF DIANTARA PEMUJI DAN PENGELAK

TASAWUF DIANTARA PEMUJI DAN PENGELAK Dr. Yusuf Al-Qardhawi Pertanyaan: Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apa pula keistimewaanya? Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana dalilnya bagi orang-orang yang memujinya? Jawab: Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang kembali, sebab masalah ini amat penting untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara menyeluruh. Dengan penjelasan yang lebih luas ini, sekiranya dapat membuka tabir yang menyelimuti bagian yang cerah ini, sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah. Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali. Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal, perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula. Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yang ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar. Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu’tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya) atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya. Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yang perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah. Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kepada Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi’ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut: “Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya.” Dalam syairnya, Siti Rabi’ah Al-Adawiyah telah berkata: “Semua orang yang menyembah Allah karena takut akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya.” Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham bersatunya hamba dengan Allah). Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, “Saya adalah Tuhan.” Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih. Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya. Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia sama, baik yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah. Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yang bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya, menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha, dan lain-lainnya. Secara obyektif bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagai berikut: “Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda’, Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya.” Banyak ayat Al-Qur’an yang menganjurkan agar mawas diri dari godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia. Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka. Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta hambaNya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur,an: “Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat besar kepada Allah …” (Q.s. Al-Baqarah: 165). “… Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya …” (Q.s. Al-Maidah: 54). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur (tidak tercerai-berai) …” (Q.s. Ash-Shaff: 4). Diterangkan pula dalam Al-Qur’an dan hadis mengenai masalah zuhud, tawakal, tobat, syukur, sabar, yakin, takwa, muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam yang suci dalam agama. Tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta membagi segi-segi utamanya maqam ini selain para sufi. Merekalah yang paling mahir dan mengetahui akan penyakit jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia, mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk. Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat yang murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu: “Ilmu tasawuf itu, kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan, setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani. Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbullah penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi.” Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut: 1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, “Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah).” Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah saw. 2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya. 3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif. Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan: “… dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia …” (Q.s. Al-Qashash: 77). Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya. Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum-hukumnya. Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi, “Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H.), berkata, ‘Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'” Al-Junaid pun berkata: “Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur’an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Abu Khafs berkata: “Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf.” Abu Yazid Al-Basthami berkata: “Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya.” Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, “Bagaimana pandangan ahli agama mengenai tasawuf?” Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut, “Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua, yaitu: Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid’ah dan di luar Sunnah Nabi saw. Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan pujian dan menganggap mereka paling baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam kondisi yang prima di antara mereka, ada yang cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya; ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara kedua sikap tadi).” Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa, melakukan tobat, ada pula yang tetap tidak bertobat. Yang lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi. Masih banyak lagi dari ahli bid’ah dan golongan fasik yang menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal. Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya. Wallaahu A’lam.

Comments off

Taubat Nasuha

Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).”

Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justeru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222,
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: “SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133 , “Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah “Taubat Nasuha”, yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'”.

Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk tidak melakukannya lagi di masa mendatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?”, “Ya”, kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: “Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya”.


Comments off

6 Perkara Mendorong Seseorang Mengumpat Menurut Imam Al-Ghazali

SIKAP suka mengumpat atau menceritakan keburukan dan kelemahan orang lain
dilaknat oleh Allah.

Mereka yang bersikap demikian, secara disedari atau tidak mencela dan
mengaibkan orang lain yang hukumnya berdosa besar.

Ketika berbual, sama ada secara sengaja atau tidak, mereka menceritakan
keburukan ketuanya, jiran, saudara mara dan orang yang lalu di hadapan
mereka.

Firman Allah bermaksud: “Hai orang yang beriman, kalau datang kepada kamu
orang jahat membawa berita, periksalah dengan saksama supaya kamu jangan
sampai mencelakakan suatu kaum yang tidak diketahui, kemudian kamu menyesal
di atas perbuatanmu itu.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Sabda Rasulullah saw seperti yang diriwayatkan oleh Al-Thabrani daripada
Abu Hurairah bermaksud: “Yang paling dikasihi Allah antara kamu ialah mereka
yang baik akhlaknya, merendah diri, suka pada orang dan disukai orang. Dan
yang paling dimarahi Allah ialah mereka yang membawa fitnah, mencerai
beraikan di antara sesama saudara dan mencaci orang yang tidak bersalah.”

Imam al-Ghazali ada menyebut enam perkara yang mendorong seseorang itu
mengumpat;

1. Ingin memuaskan hati disebabkan kemarahan yang memuncak hingga sanggup
mendedahkan keaiban dan kesalahan orang lain. Jika kemarahan tidak dapat
dikawal, ia boleh menimbulkan hasad dan dendam;

2. Suka mendengar dan mengikuti perbualan orang yang menyerang peribadi
dan kehormatan seseorang;

3. Mahu bersaing dan menonjolkan diri dengan menganggap orang lain bodoh
dan rendah;

4. Disebabkan dengki, dia iri hati dengan orang lain yang lebih beruntung
dan berjaya, seperti dinaikkan gaji dan pangkat;

5. Bergurau dan suka melawak untuk mencela dan mengatakan kelemahan dan
kecacatan hingga mengaibkan orang lain; dan

6. Sikap suka mengejek dan mencela disebabkan rasa bongkak dan sombong
kerana memandang rendah orang lain.

Sehubungan itu, Imam al-Ghazali menyarankan lima perkara untuk
menghentikan sikap suka mengumpat, antaranya ialah;

Harus sedar dan insaf mengumpat dan memburuk-burukkan orang lain itu
berdosa besar;

#Sedar dan membetulkan kesalahan sendiri daripada menyalahkan orang; dan
#Hendaklah berasa malu apabila memperli kecacatan orang lain. Ini kerana
mencela kecacatan fizikal seolah-olah mencerca Tuhan yang menciptakan.

Comments off

Hasad Dengki

Setiap orang yang mempunyai perasaan dan berakal memang mengetahui apa yang dinyatakan sebagai hasad dengki. Malah, kita mungkin pernah mengalami perasaan ini, iaitu satu perasaan irihati terhadap orang lain yang memiliki kebaikan atau kelebihan. Perasaan ini mungkin bersama dengan harapan untuk mendapat kebaikan atau kelebihan yang dimiliki oleh orang tersebut. Dan pada masa yang sama juga mungkin iri hati itu bersama cita-cita untuk melihat kejatuhan orang yang diirihatikan itu. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi;

Yang bermaksud: “Jikalau kamu semua mendapatkan kebaikan, maka hal itu tidak menyelesakan hati mereka sedang jikalau kamu semua mendapat kemudaratan, maka merekapun bergembira disebabkan kemudaratan tersebut.” (Surah al-Imran: 120)

Apakah pandangan Islam terhadap perasaan ini? Jika dilihat dari aspek sejarah kehidupan manusia, dengki ini sebenarnya telahpun lahir sejak zaman Nabi Adam a.s. sebagaimana kisah yang terdapat di dalam al-Quran. Allah berfirman;
“Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Al-Mai’dah: 27)

Kisah ini mengenai konflik yang berlaku di antara dua orang putera Nabi Adam a.s., yakni Qabil dan Habil. Apabila Allah menurunkan perintah agar mereka ini mempersembahkan korban, maka Habil menerima perintah tersebut dengan lapang dada dan memilih binatang ternakannya yang paling berkualiti untuk dipersembahkan kepada Allah dengan mengharapkan keredaan Allah s.w.t. semata-mata. Sebaliknya pula, Qabil menerima perintah Allah dengan rasa terpaksa. Maka Qabil pun, mempersembahkan hasil pertanian yang paling buruk kepada Allah s.w.t. Dengan dua bentuk korban yang persembahan kedua-duanya amat berbeza, maka tentulah Allah memilih korban yang baik dan dipersembahkan dengan hati yang ikhlas dan penuh pengharapan sebagai seorang hamba. Lantaran itu, Allah s.w.t. pun memerintahkan api untuk memakan korban yang dipersembahkan oleh Habil. Bagaimanapun, Qabil tidak merasa senang dengan keadaan tersebut dan merasa iri hati terhadap Habil. Perasaan iri hati yang meluap-luap, akhirnya menimbulkan rasa dendam di dalam diri Qabil.

Selain Qabil berdendam dengan Habil kerana korbannya yang terpilih, Qabil juga turut mendendami Habil kerana ayahanda mereka menjodohkan Habil dengan saudara kembarnya yang lebih cantik berbanding dengan saudara kembar Habil. Sebaliknya, Qabil pula dijodohkan dengan saudara kembar Habil yang berupa paras lebih sederhana.

Apabila Qabil mempunyai kesempatan untuk melepaskan dendamnya, maka diapun menemui Habil dan menyatakan, “Sesungguhnya aku mahu membunuhmu.” Habil pun bertanya dengan perasaan yang amat hairan, “Mengapa engkau mahu membunuh aku?” Jawab Qabil dengan hasad yang terbuku di dadanya, “Kerana Allah menerima korbanmu dan menolak korbanku, dan engkau akan menikahi saudara perempuanku yang cantik sedangkan aku pula harus menikahi saudara perempuanmu yang hodoh, sehingga orang lain akan berbicara bahawa engkau itu lebih baik daripadaku dan keturunanmu akan berbangga kepada keturunanku.”

Apabila Qabil berjaya membunuh Habil, timbul rasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Walau bagaimanapun, penyesalan tersebut hanya sia-sia kerana apabila Nabi Adam mengetahui mengenai peristiwa tersebut, baginda tidak mahu menerima kembali anaknya itu dan diapun dihalau. Dalam keadaan yang terbuang, Qabil telah menerima hasutan dan pengaruh iblis yang akhirnya menjadikan dirinya sesat dan melakukan pelbagai perkara yang keji. Lantaran itu, Allah telah memusnahkan keturunannya ketika zaman Nabi Nuh a.s.

Pengajaran yang boleh dapati berdasarkan kisah dua putera Nabi Adam ini ialah, hasad dengki menyebabkan seseorang boleh bertindak tanpa rasional yang boleh menyebabkan penyesalan yang tiada kesudahan. Hasad dengki juga mendorong seseorang untuk melakukan perkara-perkara yang sesat. Telah dinyatakan bahawa;

“Sesungguhnya orang yang pertama kali berbuat dengki di langit ialah iblis terkutuk, maka berlanjutanlah sifat dengki itu seperti yang ada. Dan orang yang pertama kali melakukan dengki di dunia ialah Qabil pada saat dia berhasad dengki terhadap saudara kandungnya yakni Habil, maka berlanjutanlah sifat dengki seperti yang ada. Maka cukuplah perbuatan keduanya itu sebagai nasihat dan pengajaran bagi mereka yang berfikir.”

Rasulullah s.a.w. bersabda;

Yang bermaksud: “Sesungguhnya pada nikmat Allah ta’ala itu terdapat musuh-musuh. Baginda ditanya: “Siapakah musuh-musuh itu ya Rasulullah? Baginda menjawab, Mereka ialah orang-orang yang berhasad dengki terhadap orang lain atas anugerah yang diberikan oleh Allah.”

Perasaan buruk ini boleh wujud di dalam hati manusia disebabkan manusia itu mempunyai rasa permusuhan dan kebencian. Dalam erti kata yang lain, dia tidak merasa bahawa berbaik-baik sesama manusia dan sayang-menyayang dengan saudara seislam adalah keperluan bagi kekuatan umah, yang menyumbang rasa bahagia bagi jiwa seorang muslim. Orang yang berada dalam lingkungan ini sudah pasti tidak gemar untuk menyumbang kebajikan kepada orang lain ataupun mendengar kebahagiaan yang dimiliki oleh saudaranya (seislam).

Hasad dengki juga lahir disebabkan merasa dirinya berada dalam kedudukan yang lebih tinggi dan mulia berbanding orang lain. Apabila dia melihat keadaan orang lain yang mempunyai kebaikan atau kelebihan yang tidak dimilikinya, dia menjadi rasa tercabar. Perasaan tersebutlah yang dinyatakan sebagai dengki.

Orang yang mudah merasa iri hati terhadap orang lain biasanya amat menyukai kedudukan sebagai pemimpin atau ketua. Dia tidak mahu ada orang lain yang dapat menyainginya. Orang-orang sebegini sudah pasti tidak merasa senang apabila melihat ada orang yang lebih berwibawa dan berpengaruh daripadanya.

Sebagaimana kisah Habil dan Qabil tadi, hasad dengki merupakan sifat yang boleh memberikan kesan buruk kepada diri pengamalnya. Sekurang-kurangnya terdapat lapan kesan buruk yang boleh timbul akibat dari sifat dengki ini;

1) Sifat dengki mengakibatkan terhapusnya amalan baik yang pernah dilakukan oleh seseorang. Apabila seorang muslim melakukan kebaikan, dia akan beroleh pahala. Malangnya, apabila dia mempunyai sifat dengki terhadap orang lain, amalan-amalan kebaikan yang pernah dilakukannya akan terhapus disebabkan perasaan dengki tersebut.

Sabda Rasulullah s.a.w.: “Jauhilah olehmu sekalian akan sifat dengki, kerana sesungguhnya dengki itu menghapuskan kebaikan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.” Yakni, boleh menyebabkan kufur.

2) Perasaan dengki mendorong diri seseorang untuk membuat kemungkaran dan penderhakaan terhadap Allah dalam bentuk yang lain. Apabila hasad dengki telah bersarang di dalam dada seseorang, maka dia akan meluahkan perasaan itu dalam bentuk umpatan (ghibah), berkata bohong, mencaci dan memburuk-burukkan seseorang. Dengan harapan kelebihan atau kebaikan pada orang yang didengkinya itu akan hilang.

Dari Dhamrah bin Tha’labah, Rasulullah s.a.w. bersabda:

Yang bermaksud: “Manusia itu adalah baik selama mana mereka tidak saling dengki-mendengki.”

3) Sifat dengki akan menyebabkan seseorang itu kehilangan syarat untuk menerima syafa’at pada hari kiamat.

Syafa’at adalah suatu anugerah yang tidak ternilai harganya bagi seseorang yang menerimanya ketika Hari Akhirat. Ini kerana, seseorang yang menerima syafa’at diberi izin untuknya membantu orang-orang lain yang mengalami pelbagai kesusahan dan azab ketika hari perhitungan. Jadi, tentulah amat malang bagi mereka yang mempunyai perasaan hasad dengki dan iri hati ketika hidup kerana perasaan ini berupaya menjadi penghalang yang amat besar baginya untuk menerima manfaat syafa’at pada hari akhirat yang boleh memudahkannya untuk menempuh pelbagai rintangan dan azab pada hari dia dihisab. Sebuah hadis Rasulullah s.a.w. dari Abdullah bin Basyar, Rasulullah bersabda:

Yang bermaksud: “Tidak termasuk golonganku si pendengki, orang mengadu domba, orang yang mempunyai ilmu menilik dan akupun tidak dari golongannya.”

Kemudian baginda membaca ayat al-Qur’an:

Yang maksudnya berbunyi: “Orang-orang yang menyakiti hati orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan di atas perkara yang tidak dilakukan, maka sesungguhnya mereka itu telah melakukan dusta dan dosa yang nyata.”

4) Oleh sebab dengki merupakan sifat yang menempah dosa, maka tentulah ia akan menyebabkan pengamalnya akan humbankan ke dalam neraka sekiranya dia tidak bertaubat. Rasulullah s.a.w. bersabda yang antara lain bermaksud;

“Rasulullah telah ditanya mengenai enam golongan yang akan ditempatkan ke dalam neraka. Rasulullah menjawab., Enam golongan orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka ialah, pemerintah yang menganiaya, orang Arab dengan sifatnya yang fanatik, penjajah dengan keangkuhan mereka, usahawan dengan perbuatan khianat, orang kampung dengan kebodohan mereka dan para ulama dengan sifat dengki mereka.”

5) Sifat dengki juga akan menyebabkan seseorang itu boleh melakukan perkara yang boleh memudaratkan orang lain. Contoh yang paling mudah adalah dengan melihat kisah Habil dan Qabil pada awal perbincangan tadi. Hasad dengki dan dendam kesumat yang wujud dalam perasaan Qabil telah menyebabkan kematian Habil. Di dalam hal ini, Habil telah menerima kemudaratan yang amat dahsyat disebabkan rasa hasad abang kandungnya sendiri. Apabila seseorang telah melakukan kemudaratan kepada orang lain, tentulah kesan buruknya akan pulang semula kepada dirinya. Selain itu, pengajaran lain yang boleh didapati di sini, kita seharusnya memohon perlindungan dari kejahatan orang yang berhasad dengki. Di dalam hal ini Allah s.w.t. telah menyentuh perkara ini dalam firmannya yang bermaksud;

“…dan dari kejahatan orang yang mendengki.”

6) Memiliki hasad dengki akan hanya menyebabkan kesusahan dan kesulitan kepada pemiliknya. Orang yang memiliki sifat ini tidak pernah merasa selesa dengan keadaan dirinya sendiri. Tidak ada ketenangan dalam dirinya kerana hanya memikirkan kelebihan dan kebaikan orang-orang yang berada di sekelilingnya dan merasakan dirinya juga wajar untuk memiliki kelebihan tersebut.

7) Hasad dengki yang berada di dalam hatinya akan menghalang pintu hatinya daripada memahami secara sebenarnya tentang ilmu-ilmu agama dan perkara-perkara mengenai hukum hakam. Hatinya akan menjadi gelap dan sesungguhnya orang-orang ini akan berada dalam kerugian. Ini kerana orang lain dapat memahami dengan mudah mengenai ilmu-ilmu agama, dan kesannya perhubungannya di antara hamba dengan Pencipta akan menjadi semakin dekat berbanding dengan orang yang mempunyai hasad dengki. Oleh sebab tidak ada keinsafan dalam dirinya, maka perhubungannya dengan Allah s.w.t. menjadi semakin jauh. Kata Sufyan dalam hal ini;

“Jangan engkau menjadi orang yang dengki lagi mudah membuat kesimpulan.”

8) Orang yang mempunyai hasad dengki akan sentiasa terhalang dari mendapat kebaikan dan keuntungan, bahkan dia menguntungkan musuh-musuhnya.Ini kerana, orang-orang yang mempunyai rasa dengki lazimnya akan merasa iri hati pada orang-orang yang baik, yang sewajarnya menjadi orang yang dikasihinya sebagai saudara seagama. Walaupun demikian, disebabkan sikapnya yang buruk itu, musuh-musuh orang yang didengkinya itu akan lebih beruntung. Tugas musuh-musuh ini akan menjadi lebih mudah untuk menjatuh atau memusnahkan orang yang mempunyai kebaikan dan kelebihan tersebut.

Selain itu, sebagaimana yang telah dinyatakan tadi, sikap ini akan merugikan orang yang berhasad dengki. Oleh sebab dia telah menjauhkan dirinya dari orang-orang yang didengkinya dan pada masa yang sama dia juga tidak mendapat manfaat daripada musuh-musuh orang yang didengkinya. Maka, dia sebenarnya telah meminggirkan dirinya dari semua orang. Keadaan ini sesuai dengan satu kata-kata hikmat yang mengatakan;

“Orang yang berhasad itu tidak akan menuai hasil keuntungan.”

Jika dilihat kepada akibat yang bakal diterima oleh mereka yang mempunyai perasaan ini, maka kerugian yang perlu ditanggung amat besar nilainya. Jadi, tentulah amat malang bagi mereka yang tidak melakukan apa-apa untuk menahan daripada perasaan ini wujud. Islam memberi panduan dan pedoman bagi mereka yang mahu menyelamatkan diri dari belenggu dosa ini.

Ilmu dan takwa adalah senjata sebenar yang dapat melawan perasaan yang boleh menjahanamkan manusia ini. Ilmu yang dimiliki oleh manusia dapat memberi amaran tentang akibat-akibat yang bakal diterima sekiranya perasaan ini diamalkan. Peminggiran dari aspek sosial sebenarnya adalah kerugian yang amat besar bagi seseorang manusia yang ingin diterima masyarakat. Melalui ilmu juga, seseorang manusia akan berusaha untuk mencapai darjah ketakwaan.

Ketakwaan seorang hamba pula akan menjadikan seseorang manusia itu menginsafi akan kewujudannya di bumi ini. Di dunia ini, sebagai seorang khalifah dia diperintahkan untuk memakmurkan muka bumi ini, menyayangi sesama umat Islam, berlaku adil, membuat kebaikan dan meninggalkan segala keburukan dan kejahatan. Dia akan sanggup melakukan apa sahaja yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya semata-mata untuk mendapatkan keredaan Allah. Dia meyakini bahawa sebaik-baik umat manusia adalah yang paling bertakwa kepada Allah.

Kesimpulannya, hasad dengki hanya akan menyebabkan kerugian kepada orang yang memilikinya dan kepada agama Islam sendiri. Bagi individu yang memilikinya, dia akan terpinggir dari hidup bermasyarakat, mempunyai perasaan yang sentiasa tidak aman dan akan menyebabkannya melakukan perkara-perkara yang lebih keji. Apabila dia berada di akhirat, akan menanggung kerugian yang lebih besar, tidak tertanggung dan menempah penyesalan yang tidak terkira kerana tidak layak untuk menerima dan mendapat syafa’at dan tidak ditempatkan dalam tempat yang penuh kebaikan, kemewahan dan keberkataan, yakni syurga. Walaupun kerugian itu ditanggung secara personal oleh pengamalnya, akan tetapi ia juga memberi kesan yang tidak baik kepada ukhuwwah islamiyyah. Umat Islam akan menjadi tidak bersatu dan tidak akan menjadi sebuah umat yang kuat sekiranya sifat ini diamalkan oleh orang-orang Islam. Akhirnya, umat Islam secara keseluruhannya yang akan rugi.

Walaupun demikian, sebenarnya terdapat sedikit ruang atau keringanan dalam perkara dengki. Sebenarnya, tidaklah jatuh haram atau berdosa sekiranya seseorang itu merasa iri hati apabila memandang kelebihan dan kebaikan yang dimiliki oleh orang lain tanpa harapan atau cita-cita untuk melihat kelebihan tersebut hilang dan lenyap dari pemiliknya.

Mudah-mudahan kita sama-sama dapat mengambil iktibar dan pengajaran daripada perbincangan ini.

Comments off

Zuhud Terhadap Dunia

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang menempuh perjalanan.” Ibn Umar berkata, “jika engkau ada di sore hari, jangan menunggu pagi dan jika berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Manfaatkan masa sehatmu untuk masa sakitmu dan masa hidupmu untuk kematianmu.” (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis ini berturut-turut dari: Ali bin Abdullah, Muhammad bin Abdurrahman Abu al-Mundzir ath-Thafawi, Sulaiman al-A’masy, Mujahid dan Abdullah bin Umar, dari Rasulullah saw.

Ahmad meriwayatkannya berturut-turut dari: Waki, Sufyan, Laits bin Abi Salim, Abu Mu’awiyah dan Laits.

Ibn Majah meriwayatkannya dari Yahya bin Habib bin ‘Arabi, dari Hamad bin Zaid, dari Laits.

At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Mahmud bin Ghaylan, dari Abu Ahmad, dari Sufyan, dari Laits; lalu Laits bin Abi Salim, dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar. Dalam riwayat Ahmad, Ibn Majah dan at-Tirmidzi sesudah lafal “‘âbir as-sabîl” terdapat tambahan: “wa ‘udda nafsaka fî ahli al-qubûr (hitunglah dirimu termasuk ahli kubur.”

Makna Hadis

Dalam hadis ini Rasul memberi perumpamaan bagaimana seharusnya kita memposisikan diri di dunia: seakan kita adalah orang asing dan seperti orang yang sedang menempuh perjalanan.

Ath-Thayyibi, sebagaimana dikutip oleh al-Hafizh Ibn Hajar di dalam Fath al-Bârî, menjelaskan, “Orang yang berjalan di dunia diserupakan dengan orang asing yang tidak memiliki tempat tinggal. Kemudian Beliau mengungkapkan perumpamaan yang lebih tinggi: diserupakan dengan orang yang sedang menempuh perjalanan. Sebab, orang asing kadang kala tinggal di negeri asing. Berbeda dengan orang yang menempuh perjalanan menuju negeri yang jauh; sepanjang perjalanan itu terdapat lembah-lembah yang membinasakan, gurun-gurun yang mencelakakan dan begal jalanan. Orang yang demikian tidak akan tinggal walaupun sejenak. Oleh karena itu, Ibn Umar langsung menimpali dengan kata-kata, “jika engkau ada di sore hari jangan menunggu pagi…”

Lalu sabda Rasul, “wa ‘udda nafsaka fî ahli al-qabûr, maknanya adalah, “Teruslah berjalan dan jangan engkau futur. Sesungguhnya jika engkau lemah atau lalai maka engkau akan terhenti di tengah jalan (tidak sampai tujuan) dan binasa di lembah-lembah itu.”

Imam an-Nawawi di dalam Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah berkata, makna hadis ini adalah, “Janganlah engkau cenderung pada dunia dan menjadikan dunia sebagai tempat menetap. Jangan berbicara kepada dirimu sendiri bahwa engkau akan menetap di dunia serta jangan mempertautkan diri dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan menautkan diri dengan selain tanah airnya.”

Hadis ini merupakan isyarat untuk membangkitkan sikap zuhud di dunia dan mengambil bagian harta sekadar cukup untuk bekal (tidak berlebih). Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan perjalanannya, demikian pula seorang Mukmin di dunia; ia tidak akan membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan (akhirat). Hadis ini merupakan pokok dalam mendorong untuk mengambil jarak dengan dunia, bersikap zuhud di dalamnya, memandang remeh dunia dan bersikap qanâ’ah dengan bagian harta sekadar cukup untuk bekal hidup.

Hendaknya kita selalu mengingat pesan Nabi saw ini. Hendaknya setiap kita selalu merasa asing dengan dunia. Ia selalu ingat, bukan dunia ini tempat tinggal dia karena di dunia ini ia adalah orang asing. Ia tidak akan membiarkan hatinya terjerat oleh kecintaan pada tempat asing itu sehingga melupakan tanah air hakikinya. Hatinya tidak cenderung pada dunia. Ia tidak akan menikmati keintiman dengan dunia. Ia tidak akan bermesra-mesra dengan dunia. Hatinya tidak akan dia biarkan tertambat pada dunia sehingga merasa berat untuk menjauhi dan meninggalkannya. Sebaliknya, dunia baginya adalah sesuatu yang jauh lagi asing. Karena itu, hatinya ringan untuk melepas dunia itu dan tidak berat hati untuk meninggalkannya.

Hendaknya kita pun selalu ingat bahwa kita di dunia ini hanyalah ‘numpang lewat’. Fasa kehidupan dunia ini hanyalah perjalanan untuk menuju ‘tanah air’ yang hakiki, yaitu akhirat. Sebagai orang yang sedang lewat saja, maka ia tidak akan berhenti berlama-lama, apalagi menetap. Ia pun tidak akan sibuk mengumpulkan harta dan perbekalan karena itu bisa memalingkannya dari perjalanan atau setidaknya menundanya. Selain itu, harta dan perbekalan yang terlalu banyak akan memberatkan dan menjadi beban di perjalanan yang bisa-bisa justru mencelakakannya. Sebaliknya, ia hanya mengambil harta dan perbekalan secukupnya saja, tidak berlebih. Itu pun dilakukan sambil terus berjalan. Sebagai orang yang sedang lewat, adalah tersesat jika ia justru menjadikan tempat singgah dan jalan yang ia lalui sebagai tujuan itu sendiri dan memalingkannya dari tempat tujuan yang hakiki.

Seorang Mukmin tidak selayaknya menjadi pecinta dunia, pemburu harta dan pencari kelezatan dunia. Sebaliknya. seorang Mukmin akan bersikap zuhud terhadap dunia dan qanâ’ah dengan karunia Allah yang ia terima. Dunia baginya adalah sesuatu yang asing dan tidak berharga. Ia jadikan dunia hanya sebagai jalan, wasilah dan sarana untuk mencapai tempat tujuan, yaitu akhirat. Akhiratlah yang selalu menjadi tambatan hatinya dan ujung angan-angannya.

Comments off

10 PERKARA YANG MEMATIKAN HATI.

1. Kamu kenal Allah, tetapi kamu tidak nenunanaikan haknya.

2.Kamu membaca Al Quran tetapi kamu tidak laksanakan ajarannya dan perintahNya.

3.Kamu kata cinta kepada Rasululhah, tetapi kamu tidak mengikuti sunnahnya

4.Kamu tahu bahawa syaitan itu musuh kamu tetapi kamu bersekutu dengannya.

5.Kamu berkata kamu cintakan syurga, tetapi kamu tidak beramal untuk mendapatkannya

6.Kamu kata kamu takutkan neraka, tetapi kamu gadaikan diri kamu untuknya.

7.Kamu tahu bahawa mati itu benar dan pasti akan datang, tetapi kamu tidak membuat persediaan untuk selepas kamu mati.

8.Kamu selalu sibuk dengan keaibban saudara-saudara kamu, tetapi kamu lupakan diri kamu sendiri.

9.Kamu gunakan nikmat Allah, tetapi kam tidak bersyukur kepadaNya

10.Kamu timbus mayat-mayat, tetapi kami tidak mengambil pengajaran daripadanya.

Sedutan nasihat oleh seorang wali Allah, Ibrahim Adham.

Sabda Nabi s.a.w :

” Dan janganlah dipilih hidup bagai nyanyian ombak, hanya berbunyi ketika terhempas di pantai. Tetapi jadilah kamu air bah, nengubah , dunia dengan amalmu “.

Dari Auf bin Malik r.a. katanya : ” RasullulLah s.a.w. menyembahyangkan mayat lalu saya hafal sebahagian dari – doa beliau, nengucapkan :” Ya Allah ! Ampunilah dosanya, berilah dia rahmat, sihatkanlah dia: maafkanlah dia, muliakanlah penyambutannya, lapangkanlah tempat masuknya; basuhlah dia dengan air salju , bersihkan dia dari kesalahan, sebagaimana Engkau bersihkan pakaian putih dari kekotoran, Gantikanlah rumahnya dengan rumah yang lebih baik dan keluarganya dengan keluarga yang lebih baik dari isteri (suami) dengan isteri (suami) yang lebih baik ! Masukkanlah dia kedalom syurga, dan jauhkanlah dia dari siksaan api neraka ! Kata ‘ Auf : ” Sampai saya ingin, hendaknya mayat itu saya.”

Comments off

RIAK PENGHAPUS PAHALA

Sifat Riak adalah satu daripada sifat mazmumah yang boleh menghapuskan
segala pahala amalan yang telah kita lakukan. Perumpamaan sifat riak ini
adalah umpama api yang memakan sekam. Diluarnya dilihat baik tetapi di
dalamnya mengandungi niat yang tersembunyi selain dari Allah. Amalan yang
dilakukan bertahun-tahun lamanya itu hanya daloam sekelip mata sahaja
dihapuskan oleh perbuatan riak yang dilakukan walaupun sekali.

Ketahuilah bahawasanya riak itu haram hukumnya. Orang yang melakukan sesuatu
perbuatan dengan riak akan dimurkai Allah. Firman Allah :

“Maka celakalah bagi orang-orang yang bersembahyang, yang sentiasa lalai
kepada sembahyangnya. Mereka yang mengerjakan kebaikan dengan riak (iaitu
minta amalannya dilihat orang).” ( Al Ma’un: 4-6)

Untuk melawan riak, maka seseorang itu perlu ikhlas di dalam amalannya.
Tanpa ikhlas, sesuatu amalan akan tertolak. Amalan yang lain kalau ikhlas
akan diterima oleh Allah. Ikhlas ialah meniatkan sesuatu yang dilakukan atau
yang ditinggalkan kerana Allah. Kalau tidak diniatkan sesuatu yang kita
lakukan itu kerana Allah , maka amalan tersebut itu tidak di anggap ikhlas
dan tertolak serta tidak ada nilaiannya disisi Allah.

Ikhlas itu yang sebenarnya adalah rahsia Allah yang tidak diketahui oleh
sesiapa pun. Tetapi walaupun ia rahsia, namun Islam ada membuat garis
panduan untuk kita mengukur hati kita dan membentuk kita agar benar-benar
ikhlas. Caranya, orang puji atau keji pada kita, kita rasa sama sahaja.
Pujian tidak membanggakan danm kejian tidak mengecewakan kita. Itulah tanda
ikhlas. Bagi orang yang beramal dan melakukan kebaikan, tidak mengharapkan
pujian dan tidak berkesan segala kejian itulah ikhlas. Bagi orang yang
ikhlas, mereka tidak mengharapkan sesuatu melainkan keredhoaan Allah.
Pandangan dan pujian manusia langsung tidak diendahkan. Pernah suatu ketika
di dalam peperangan, Sayidina Ali k.w.j diludahi mukanya oleh seorang musuh,
terus dilepaskan peluang untuk membunuh musuh tersebut. Bila ditanya kenapa
dia melepaskan musuh tersebut sedangkan musuh itu telah meludah mukanya.
Maka dijawab oleh Sayidina Ali “ Aku takut kalau-kalau pukulanku sesudah
ludahnya itu adalah kerana marah bukan kerana Allah.” Demikian contoh orang
yang ikhlas yang sanggup mengenepikan kepentingan diri dalam usaha mencari
keredhoaan Allah.

Untuk mendapatkan ihklas bukannya mudah. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh
melawan nafsu dan syaitan, ikhlas tidak akan kita dapati. Syaitan telah
bertekad untuk menghancurkan kita. Ingatlah janji Iblis ketika dihalau Allah
s.w.t dari syurga yang difirmankan oleh Allah di dalam Al Quran :

“Jawab Iblis : Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semua.
Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas dikalangan mereka.” (Sod : 82-83 )

Syaitan akan menyelinap di dalam hati setiap manusia untuk merosakkan amalan
dengan rasa ujub dan riak. Orang yang tidak mempunyai ikhlas sekalipun tuan
guru, ustaz ustazah,, kadhi, imam apalagi orang biasa, pasti Allah biarkan
mereka itu terperangkap di dalam jerat ujub dan riak yang merupakan jerat
syaitan dan nafsu. Bila Allah biarkan yang sedemikian, maka nerakalah tempat
kembalinya. Oleh itu hati-hatilah di dalam melakukan setiap amalan dan
pohonlah pimpinan Allah agar setiap amalan yang kita lakukan itu adalah
untuk Allah semata-mata bukan untuk kepentingan diri dan nafsu kita.

Comments off

Older Posts »